Langkah awal dalam mendongkrak kelas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kriya di Kabupaten Belu tidak dimulai dengan teori atau pelatihan di dalam ruangan, melainkan dengan turun langsung untuk menyelami kehidupan masyarakat. Melalui program Belu Creative Camp (BCC) yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Belu dan didukung oleh Bank Indonesia, tim pelatih melakukan proses "temu kenali" untuk memetakan potensi dan tantangan para perajin.
Di Desa Adat Duarato, Kecamatan Lamaknen, kebudayaan ditemukan bukan sekadar sebagai tontonan, melainkan sebagai warisan yang masih hidup dan dipraktikkan sehari-hari (living heritage). Para perempuan atau mama-mama memegang peranan krusial sebagai penggerak utama ekonomi dan budaya. Mereka secara konsisten memproduksi karya seperti Tenun Bunaq, anyaman tanasak dari bahan pandan dan lontar, hingga olahan kopi jahe tradisional. Meski memiliki keterampilan yang diwariskan turun-temurun, para perajin ini mengakui bahwa mereka belum mengenal konsep inovasi seperti home decor dan sangat membutuhkan pendampingan desain serta pemasaran untuk memperluas jangkauan produk.
"Desa Duarato bukan hanya memiliki berbagai produk budaya. Yang dimiliki masyarakat adalah sebuah ekosistem kebudayaan yang masih hidup."
Potensi serupa juga dijumpai di Desa Tulakadi, Kecamatan Tasifeto Timur. Di sana, para perajin perempuan (disebut Ina) menunjukkan tingkat kemahiran teknis yang sangat mumpuni dalam mengolah serat daun lontar dan pandan laut menjadi wadah fungsional. Namun, tantangan besar yang dihadapi di desa ini adalah masalah regenerasi. Anak-anak muda dan generasi penerus mulai enggan mempelajari keterampilan menganyam tersebut, sehingga narasi historis dan filosofis di balik kerajinan perlahan mulai memudar.
"Selembar daun lontar bukan sekadar bahan baku kerajinan. Di balik setiap anyaman tersimpan pengetahuan mengenai alam, keterampilan yang diwariskan lintas generasi, serta cerita budaya yang membentuk identitas masyarakat."
Terlepas dari berbagai tantangan produksi dan regenerasi tersebut, masyarakat Belu terbukti memiliki modal sosial yang sangat luar biasa. Hal ini terlihat jelas dalam perayaan akbar Festival Fulan Fehan di padang sabana Gunung Lakaan. Ribuan masyarakat dengan bangga mengenakan karya Tenun Belu dan menari bersama, menghidupkan sebuah falsafah luhur perbatasan yakni "kebun tiada batas, rumah tiada sekat". Falsafah persaudaraan dan keluhuran budaya inilah yang kemudian dijadikan pijakan utama bagi program pengembangan UMKM untuk membantu produk kriya lokal naik kelas tanpa harus kehilangan identitasnya.