Beranda Tentang Kami Program Mitra Artikel Kontak Hubungi Kami

Seri 3: Inkubasi Keterampilan, Menyatukan Tradisi Kriya dan Tren Pasar Global

Pengembangan UMKM Kriya Kabupaten Belu NTT dalam Rangka Mendorong UMKM Naik Kelas 03 Jul 2026 Dewi Hadhy 2 menit baca
Seri 3: Inkubasi Keterampilan, Menyatukan Tradisi Kriya dan Tren Pasar Global

Geliat kebangkitan UMKM kriya Belu semakin nyata saat para perajin mengikuti rangkaian Workshop Belu Creative Camp (BCC) yang diselenggarakan di Atambua. Terbagi ke dalam tiga klaster unggulan, Anyaman Pelepah Pisang, Anyaman Pandan Laut, dan Gerabah Terakota, para perajin secara intensif digembleng untuk memadukan keahlian tradisional mereka dengan standar industri kreatif modern.

Pelatihan diawali dengan penguasaan karakter dasar bahan baku dan teknik pengolahannya, seperti sterilisasi anti-jamur organik dan pelunakan serat agar tidak rentan patah. Sebuah langkah penting juga dilakukan dengan mengeksplorasi penggunaan pewarna alami yang bersumber dari kekayaan alam Belu, seperti daun tarum untuk warna biru, kunyit untuk warna kuning, pinang, hingga kulit kayu mahoni. Para perajin diajarkan teknik fiksasi (penguncian warna) menggunakan tawas, kapur, atau tunjung, untuk mengatasi kendala warna yang selama ini sering luntur atau kusam.

"Peserta menyadari bahwa produk anyaman dengan pewarna alami memiliki nilai jual yang jauh lebih mahal dan sangat diminati oleh kurator pameran nasional serta pasar ekspor."

Memasuki tahap selanjutnya, orientasi pelatihan bergeser pada penciptaan karya berstandar ekspor. Di klaster gerabah, peserta tidak sekadar membentuk tanah liat, melainkan mulai mengaplikasikan teknik finishing akhir yang modern, seperti teknik bakar (Eropa) dan teknik wash (kombinasi). Nilai estetika dan identitas lokal pada gerabah ini bahkan semakin diperkuat dengan mengintegrasikan ornamen Tenun Belu serta aksen anyaman pelepah pisang secara langsung pada badan gerabah.

Lompatan kualitas (product upscaling) yang tak kalah luar biasa juga terjadi pada klaster anyaman. Para perajin pelepah pisang, yang sebelumnya hanya terbiasa membuat tampar sederhana, kini berhasil memproduksi keranjang (basket) berkualitas komersial dan bingkai cermin (mirror frame) dengan motif acak yang layak ekspor. Sementara itu, para perajin pandan laut berani keluar dari kebiasaan lama dengan memproduksi wadah fungsional, seperti kotak tisu, yang memanfaatkan teknik perakitan struktur karton (paper crafting).

Keseluruhan proses transformasi keterampilan ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah, yang ditandai dengan kunjungan dan dialog langsung bersama Bupati Belu serta Ketua Dekranasda Kabupaten Belu. Sinergi yang kuat antara instruktur, semangat belajar para perajin, dan dukungan pemerintah ini membangun optimisme besar bahwa produk kriya dari wilayah perbatasan akan segera lahir menjadi karya yang mandiri, berdaya saing, dan siap menembus pasar global.