Beranda Tentang Kami Program Mitra Artikel Kontak Hubungi Kami

Seri 2: Menggali Potensi Bahan Baku dan Memperkuat Fondasi Pengetahuan

Pengembangan UMKM Kriya Kabupaten Belu NTT dalam Rangka Mendorong UMKM Naik Kelas 29 Jun 2026 Dewi Hadhy 2 menit baca
Seri 2: Menggali Potensi Bahan Baku dan Memperkuat Fondasi Pengetahuan

Setelah menyelami kehidupan budaya masyarakat, langkah penting selanjutnya dalam mendorong UMKM kriya Belu naik kelas adalah memastikan kualitas material dasar yang digunakan oleh para perajin. Tim asesor bergerak menuju Dusun Alsora di Desa Bakus Tulama untuk melakukan survei dan asesmen fisik kelayakan bahan baku lokal, seperti tanah liat untuk kerajinan gerabah, serat pelepah pisang, serta daun pandan laut.


Hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa tanah liat lokal memiliki karakteristik fisik yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi produk terakota bernilai estetis tinggi. Begitu pula dengan bahan baku serat alamnya yang terbukti memiliki kekuatan fisik yang layak. Meskipun demikian, tim menemukan hambatan utama pada tahap pra-produksi, seperti perlunya pembersihan tanah liat secara maksimal dan pentingnya metode pengeringan anti-jamur untuk serat alam. Proses pengolahan yang masih menggunakan alat penyerut sederhana juga membuat ketebalan anyaman belum seragam, sehingga menciptakan jarak (gap) kualitas antara produk kriya saat ini dengan spesifikasi mutu yang dibutuhkan untuk pasar premium maupun ekspor.

"Pengembangan ekonomi kreatif perlu bertumpu pada penguatan pengetahuan, bukan hanya pengembangan produk."


Lebih dari sekadar urusan teknis material, pengembangan UMKM ini rupanya harus terus bersandar pada akar identitas daerah. Dalam sesi diskusi mendalam bersama Ibu Lidwina Viviawaty Ng Lay, ditekankan bahwa Kabupaten Belu memiliki kekayaan budaya luar biasa yang lahir dari empat suku utama, yaitu Kemak, Tetum, Bunaq, dan Dawan. Keberagaman motif tenun, teknik anyaman, dan tradisi dari keempat suku ini merupakan modal utama bagi pengembangan ekonomi kreatif di wilayah perbatasan. Memahami kebudayaan Belu diakui sebagai sebuah proses yang tidak pernah selesai, karena kebudayaan tersebut bukanlah sekadar warisan masa lalu, melainkan sebuah kehidupan yang masih terus bertumbuh dan berkembang.


Untuk merawat dan memajukan seluruh potensi alam dan budaya tersebut, program ini juga mematangkan gagasan mengenai pendirian Belu Community Creative Center. Ke depannya, fasilitas ini tidak hanya dirancang sebagai ruang untuk mempromosikan produk semata, melainkan dikembangkan sebagai ruang pembelajaran, tempat kolaborasi, dan simpul utama yang akan menghubungkan berbagai denyut kehidupan budaya yang ada di desa-desa se-Kabupaten Belu.